masukkan script iklan disini
Akhirnya Kehidupan tetap Berlanjut
Oleh : Hikmatiar Harahap
Dalam perjalanan hidup manusia di dunia, kondisi dan situasi memberikan pengharapan atau kekecewaan. Hidup dan dunia bukan saja alam semata tempat untuk menjalani hidup, melainkan salah satunya, sedangkan di alam yang lain pengharapan dan kekecewaan tetap ada dengan tempat yang berbeda. Sementara sudah ada alam yang telah dilewati dan akan di lewati, alam rahim adalah kehidupan, alam dunia adalah kehidupan, alam barzakh adalah kehidupan, alam akhirat adalah kehidupan. Hanya saja dimensi dan letak perjalanan saya yang membedakan. Dan alam-alam yang akan dilewati, saat ini sudah ditemukan gambarannya melalui doktrin dan informasi yang bersumber dalam kitab suci, bahkan bisa jadi didapati kedepannya dengan temuan teknologi. Alam rahim saja yang tak pernah terlintas dalam pikiran, kini membuat mata dan hati semakin takjub dengan temuan teknologi USG.
Misalnya, mengenai perjalanan alam rahim, sebelum ditemukan alat medis yang dapat melihat perkembangan masih menggunakan alat manual observasi fisik dengan cara pemeriksaan perut (palpasi abdomen), pemeriksaan dalam (vaginal toucher), mengukur tinggi fundus uteri dan sebagainya. Perkembangan ilmu medis mengantarkan pada pencapaian yang fenomenal sehingga ditemukan teknologi USG (ultrasonografi) sebuah teknik menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound) untuk menghasilkan gambar dari bagian dalam tubuh. Bahkan ada beberapa jenis-jenis USG antaranya USG 2D, USG 3D/4D, jenis yang terakhir berguna dalam memberikan lebih jelas jalan wajah janin dalam bentuk poto. Untuk itu, bagi ibu hamil USG berfungsi melihat perkembangan janin, posisi janin, usia kehamilan, dan kondisi rahim. Perjalanan hidup dalam rahim, telah mengungkapkan pencapaian manusia tentang kehidupan yang sedang berlangsung, sehingga jendela kecil terbuka dengan rasa cinta, kasih sayang serta pengharapan.
Kehidupan manusia tetap berlanjut, alam dunia perjalanan kedua yang harus dilewati sadar dan tidak sadar, saat ini dengan kondisi kehidupan yang dialami sedang bahagia atau bersedih, berkecukupan atau kekurangan, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, maju atau melarat, alim atau durhaka dunia adalah tempat sementara, menentukan perjalanan selanjutnya. Quran Surah Al-Mu’minun ayat 115 yang berbuyi:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
*“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”*.
Dunia tidak peduli dengan kondisi yang manusia alami serius atau main-main, jika baik menjalani hidup dunia dengan mentaati aturan agama dan hukum, maka baiklah perjalanan dunia menuju alam selanjutnya dan begitu juga sebaliknya serta seterusnya. Namun yang pastinya *“dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?”* ada tempat singgah selanjutnya. Karena saat ini sedang berada di dunia, maka simbol kehidupan normal sudah semestinya di buktikan secara nyata sehingga kehidupan itu jangan sampai *“jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”*. QS at-Taghaabun [64] ayat 12).
Sampai kapan manusia (pribadi) tetap berada di alam dunia, sampai karakter terbentuk dan sempurna dalam setiap pribadi, satu nilai kesempurnaan yang tersimpan dalam diri setiap manusia. Karakter ini adalah urusan manusia secara pribadi dengan sang Pencipta yang Maha Sempurna (al-Khaliq).
Dan, apa sesungguhnya esensi perjalanan hidup di dunia maka dalam konteks ini adalah *“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”* (Quran surah ali ‘Imran [3], ayat 191). Kehidupan harus bermakna dan penuh tanggung jawab sosial sesuai dengan kapasitas yang dimiliki setiap pribadi. Akibat ketidaksaran diri seringkali lepas landas dan tak terkendali sehingga menabrak nilai-nilai kehidupan, akhirnya terperosot pada lembah ketidakpedulian. Akhirnya, hidup adalah hidupku dan kemauanku, terus kamu mau apa. Oleh karena itu, alam dunia yang begitu beragam bentuk, rupa dan keadaannya, masing-masing setiap manusia sadar dan menarik kesimpulan dari berbagai aspek kebermaknaan dari segala penjuru.
..*“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring”*… merupakan tafsir kehidupan yang harus dimaknai dengan berbagai macam jenis dan aktivitas manusia di dunia ini. Sebagai ladang tempat untuk menunaikan kebermaknaan dan tanggung jawab sosial semisal yang diuraikan dalam Alquran surah al-Balaq [90] ayat 13, 14, 15 16. Akhirnya, bila dilaksanakan kehidupan dunia akan berjalan dengan normal, seimbang dan berlanjut dengan penuh cinta dan kasih sayang antar sesama.
Wallahu a’lam bishawab









