masukkan script iklan disini
GARUDANUSANTARA | ACEH - Masa pensiun bagi sebagian orang mungkin menjadi fase untuk beristirahat setelah puluhan tahun bekerja. Namun, bagi Fathoni Siregar, pensiun justru menjadi awal dari babak baru dalam kehidupannya.
Setelah mengabdikan diri selama kurang lebih 30 tahun sebagai pegawai salah satu BUMD di Sumatera Utara, Fathoni memilih untuk tidak larut dalam masa purnabakti. Ia justru mengambil langkah berani dengan terjun ke dunia wirausaha.
Bermodalkan dana pensiun yang diterimanya, Fathoni merintis usaha kuliner berupa martabak ikan spesial di Aceh. Tidak berhenti di sana, bersama sang istri, ia juga mengembangkan sebuah kafe dengan menu andalan kopi yang kini menjadi salah satu tempat berkumpul yang digemari anak muda.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Fathoni mengaku memiliki tekad kuat untuk tetap produktif dan memberikan manfaat bagi orang lain meski telah memasuki masa pensiun.
Menariknya, langkah tersebut dilakukan Fathoni hanya berselang dua hari setelah dirinya resmi pensiun. Begitu dana pensiun dicairkan, ia langsung memanfaatkannya sebagai modal awal untuk membangun usaha.
"Saya sangat bersyukur mendapat dukungan dari teman-teman dan istri. Dana pensiun yang saya terima saya manfaatkan untuk modal usaha jualan martabak ikan. Alhamdulillah, usaha ini terus berjalan," ujar Fathoni saat ditemui di kafe miliknya di Aceh, Jumat, (14/8).
Menurut Fathoni, menjadi pensiunan bukan berarti berhenti berkarya. Justru, masa pensiun dapat menjadi kesempatan untuk memulai sesuatu yang selama ini mungkin belum sempat dilakukan ketika masih aktif bekerja.
Baginya, berwirausaha bukan semata-mata tentang mencari keuntungan. Lebih dari itu, membuka usaha berarti membuka kesempatan kerja dan membantu orang lain mendapatkan penghasilan.
"Makanya saya mengimbau kepada rekan-rekan yang menjadi Polri, TNI, ASN maupun PNS, bukalah mata, bukalah hati. Jangan uang pensiun hanya digunakan untuk makan dan biaya pengobatan. Uang pensiun juga dapat dijadikan modal untuk membuka usaha, sehingga banyak orang yang bisa tertolong," katanya.
Fathoni berharap, dukungan pembinaan dan permodalan yang diperolehnya dari Bank Mantap juga dapat dirasakan oleh para pensiunan lainnya.
Menurutnya, tidak sedikit pensiunan yang sebenarnya memiliki dana pensiun yang cukup untuk memulai usaha, namun belum memiliki keberanian atau pengetahuan untuk mengelolanya menjadi kegiatan produktif.
Ia pun mendorong para pensiunan agar tidak takut memulai usaha dari skala kecil. Menurutnya, keberhasilan tidak selalu harus dimulai dengan modal besar, tetapi membutuhkan kemauan, keberanian, konsistensi dan kreativitas.
Kisah Fathoni menjadi bukti bahwa masa pensiun bukanlah akhir dari produktivitas. Setelah puluhan tahun bekerja sebagai pegawai, ia justru mampu menemukan jalan baru untuk mengembangkan potensi sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
"Para pensiunan bisa mencontoh Pak Fathoni yang tetap produktif dan bermanfaat bagi banyak orang dengan membuka lapangan usaha. Puluhan tahun beliau menghabiskan waktu sebagai karyawan, tetapi hal itu tidak menghilangkan tekad dan kreativitasnya untuk membangun bisnis. Dan sekarang hasilnya luar biasa," ungkapnya.
Kini, Fathoni tidak hanya menikmati masa pensiun dengan tenang, tetapi juga menjalani hari-harinya sebagai seorang wirausahawan.
Ia berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi para pensiunan di mana pun berada agar tidak memandang masa purnabakti sebagai akhir dari perjalanan, melainkan sebagai kesempatan untuk memulai lembaran baru.
Pesan Fathoni sederhana namun penuh makna: pensiun dari pekerjaan bukan berarti pensiun dari kehidupan, kreativitas dan kebermanfaatan.
Selama masih memiliki kemauan untuk bergerak dan berkarya, selalu ada peluang untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat, bahkan membuka jalan bagi orang lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. (Red)








